Kadang Perubahan Itu Datang Diam-Diam

Setiap orang memiliki proses bertumbuhnya masing-masing

Kenapa bagi sebagian murid, bertanya di kelas adalah hal yang menakutkan? Ini bukanlah hal yang baru di dunia pendidikan. Aku yakin salah satu diantara kalian selalu menjawab “paham” ketika guru bertanya apakah kalian sudah paham dengan materi yang dijelaskan di kelas.

Ada satu murid di kelas yang menarik perhatianku. Dia anak yang pasif, pendiam, malah menurutku kelihatan bingung. Dia tidak pernah bertanya kalau tidak paham. Setelah mengumpulkan informasi secara tidak sengaja (menguping), ternyata dia masuk sekolah di usia setahun lebih muda dari teman-teman sekelas. Hampir di setiap penjelasan materi dan tugas, dia hanya diam dan melamun. Kayak, badan di sekolah, tapi pikiran entah di mana. Tugasnya pun hampir tidak dikerjakan, pokoknya banyak ketinggalannya, bahkan nilainya di semua mata pelajaran adalah nilai pas-pasan.

Mengingat dia sudah duduk di bangku sekolah menengah, aku merasa masalah ini tidak bisa dianggap sepele. Sebagai guru yang baru pertama kali mengajar, aku juga sedang belajar memahami murid-muridku. Aku coba taktik pertama dengan cara meminta tolong temannya untuk membantu. Kenapa? Karena aku yakin dia akan merasa nggak nyaman dengan aku (pengalaman soalnya hehe). Hebatnya, teman-teman sekelasnya paham kondisinya. Mereka saling bantu, bahkan menganggap si murid ini adalah si bungsu yang harus dijaga.

Secara bertahap aku juga melakukan pendekatan dengan murid ini, bukan sebagai guru melainkan sebagai teman, dan kebetulan kita sesama Gen Z. Sebisa mungkin aku memastikan kalau dia sudah paham dengan penjelasan materi dan brief tugas. Kalau belum, aku sering panggil dia ke depan kelas dan kita mengobrol secara empat mata. Aku menjelaskan ulang dengan bahasa yang lebih sederhana. Dia mengangguk paham, walaupun pada akhirnya dia bertanya lagi ke temannya.

Setelah itu, mulai ada perubahan kecil. Murid ini mulai berani maju hanya untuk bertanya padaku tentang hal yang masih belum dipahami. Lalu, walaupun hasil tugasnya kacau, setidaknya dia sudah mau berusaha. Sampai akhirnya di semester akhir kelas XI, aku dibuat kaget, bangga, sekaligus terharu terhadap perubahannya. Murid ini mulai aktif di kelas. Dia yang dulunya kaku dan pasif, sekarang sudah bisa berinteraksi lebih baik dengan teman-temannya di kelas, hasil tugas yang dikumpulkan juga sudah lebih baik dari sebelumnya. Ya, dia berubah dan aku bisa melihatnya.

Oh, ya. Mungkin alasan aku begitu memperhatikan murid itu sederhana. Karena dulu, aku juga pernah menjadi murid yang takut bertanya. Aku masih nggak tahu apa yang sebenarnya mengubah si murid ini. Entah apa saja yang sudah dilaluinya, entah apa yang menjadi pemicunya. Yang kutahu, perubahan sekecil apa pun tetaplah sebuah perubahan. Kalau ini sebuah game, mungkin orang akan menyebutnya character development. Tapi di dunia nyata, kami menyebutnya bertumbuh.

Dan mungkin, memang begitulah perubahan bekerja. Tidak selalu datang dengan suara yang keras. Kadang, perubahan itu datang diam-diam.